Bab 1. Siklus Hidup
Proyek
Proyek
memiliki tahap dan karakteristik tertentu dalam hal besarnya usaha, tingkat
ketidakpastian, potensi konflik yang ada, potensi resiko yang ada, dan
sebagainya. Perkembangan produk biasanya diawali dengan riset dan perkembangan,
dilanjutkan dengan pembuatan desain, pengenalan ke pasar, pertumbuhan, matang,
penurunan sampai produk tersebut mencapai tahap mati dan tidak produksi lagi.
Pada tahap awal, peluang keberhasilan proyek masih rendah samapai dengan
tingkat resiko tinggi. Dan juga dengan ketidakpastian yang masih ada
mempengaruhi karakteristik produk akhir proyek, kemampuan ini akan menurun dan
semakin lama akan mendekati akhir siklusnya.
Biasanya
dalam proyek memerlukan proposal. Pembuatan proposal perlu ditangani oleh
manajemen puncak. Pembuatan proposal adalah bagian penting dalam melakukan
sebuah proyek. Dan juga harus bias memilih aspek-aspek yang sesuai untuk proyek
dalam pembuatan proposal, seperti aspek hukum.
Proyek juga
memiliki bagian enting yaitu tahap perencanaan. Jadi dalam pembuatan proyek
harus memiliki tahap perencaan yang matang. Pembuatan tahap ini dilakukan oleh
tim proyek. Rencana harus memenuhi keinginan user, dana, permintaan user.
Pada proyek
jika sudah sampai pada tahap eksekusi maka pemngambilan keputusan sudah harus
dipikirkan dengan baik oleh pelaksana proyek. Yang tercakup pada tahap ini
adalah desain, pengadaan, dan konstruksi. Secara umum proyek memiliki hasil
akhir berupa produk fisik akan mempunyai kehiatan eksekusi dan operasi, yaitu
penyerahan hasil kepada user. Setelah semua selesai maka kontraktor menyerahkan
hasil proyek kepada user, kemudian user mulai mengoperasikan hasil proyek
tersebut. Selama tahap ini kontraktor masih juga terlibat sesuai kontrak atau
juga keperluan dari user tersebut jika diperlukan pada saat evaluasi ataupun
pengoperasian berlangsung .
Bab 2. Organisasi
Proyek
Jika suatu
perusahaan berhasil dan memiliki perkembangan maka perusahaan tersebut perlu
mengembangkan struktur organisasinya. Biasanya focus dari struktur organisasi
adalah pengkhususan yang ada maka struktur lama tidak perlu berubah. Terdapat
beberapa dasar penyusunan struktur organisasi yaitu berdasar produk, lokasi,
proses, pelanggan, fungsi. Beberapa perusahaan besar memiliki metode tingkatan
organisa yang berbeda-beda.
Organisasi
fungsional membagi departemennya berdasarkan fungsi-fungsi yang dilakukan
bagian yang ada, dengan mengenal fungsi pemasaran, fungsi personalia, fungsi
produksi, fungsi keuangan, dan sebagainya, bergantung pada kebutuhan perusahaan
untuk menangani pekerjaannya. Tim proyek yang hanya terdiri dari satu unit
fungsional biasanya akan dipimpin oleh project expeditor. Manajer fungsional
dari unit yang mengelola proyek harus berhubungan dengan manajer lain jika
menggunakan orangnya. Manajemen perlu mengatasi masalah dengan menciptakan
koordinasi antar unit yang bias mengintegrasikan aliran kerja tanpa merubah
struktur yang ada.
Bab 3. Tim Proyek
Secara umum
pengertian tim proyek adalah semua personil yang terhubung dalam organisasi
pengelola proyek. Ada personil fungsional dari organisasi induk, ada juga
personil yang menjadi inti dari tim. Tugas utama tim adalah melaksanakan
pekerjaan konstruksi/pembangunan dan pekerjan-pekerjaan lain yang berhubungan
dengan pekerjaan konstruksi ini. Dalam tim proyek terdapat manajer proyek. Ia
berperan sangan penting dan menjadi sentral, jika tidak ada MP makan tidak aka
nada manajemen proyek. Manajemen proyek mengintegrasikan beberapa kegiatan yang
berbeda untuk mencapai tujuan tertentu. Tanggung jawab manajer proyek
menyerahkan hasil akhir proyek dalam kroteria tertentu. Manajer proyek memiliki
otoritas atau wewenang di dalam proyek. Dalam memilih manajer proyek setidaknya
memiliki beberapa kategori yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi manajer
proyek, seperti karakteristik personal, ketrampilan perilaku, ketrampilan
bisnis, dan kemampuan teknis.







0 komentar:
Posting Komentar